Jumat, 20 Januari 2012

asal usul kota SAMARINDA

belajar sejarah memang mengasyikkan dan terkadang membuat penasaran , dan kali ini saya akan membahas tentang Asal-usul kota SAMARINDA . selamat membaca ^_^



Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman  memimpin angkatan laut menyerang Makasar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanudin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan ” PERJANJIAN BONGAJA” pada tanggal 18 Nopember 1667.
Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).
Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua “sama” derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau “rendah”. Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaan “SAMARINDA”.
Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi “Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya’ban 1078 H” penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980.
Tetapi kalau umumnya tahun sebelumnya samarinda berulang tahu pada tanggal  21 januari.Namun berbeda dengan tahun ini, pelaksanaan upacara bendera peringatan HUT Kota Samarinda rencananya akan dilakukan 24 Januari. "Penundaan ini didasari pada 21 Januari hari libur. Kebetulan pada hari itu sudah ada jadwal kegiatan lain yang termasuk rangkaian kegiatan HUT. Sedangkan hari Senin kebetulan libur nasional, sementara bila dilakukan sebelumnya pada tanggal 20, oleh panitia sudah dijadwal agenda ziarah ke makam pendiri Kota Samarinda Daeng Mangkona yang dilanjutkan sekaligus salat Jumat bersama di Masjid Shirathal Mustaqim. Jadi oleh panitia disepakati peringatan puncak hari jadi kota ini dilakukan Selasa 24 Januari.
sampai disini dulu ya ceritanya ... semoga bermanfaat ^_^ bagi semua para pembaca , mudah2an semua para pembaca bisa menyukai postingan saya Terima kasih :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar